Rahmat Mirzani Djausal
Jihan Nurlela Chalim
Example 728x250
Kata Mereka

Persepsi Bebas: Abolisi Tom Lembong Dan Amnesti Hasto

29
×

Persepsi Bebas: Abolisi Tom Lembong Dan Amnesti Hasto

Sebarkan artikel ini
exspaper.com

Untuk Abolisi Tom Lembong dan Amnesti Hasto, orang tentunya juga boleh untuk bebas berpikir bahwa Prabowo hanya ingin terlihat sebagai pahlawan dan hanya ingin PDIP tunduk

Prifko Yuhady – Sekjen BRIM-08

Kita sebagai manusia memang diberikan pilihan bebas untuk berpikir. Itu pula yang membedakan kita dengan makhluk lainnya, dan hal itu pula yang akan membedakan bagaimana takdir hidup akan kita jalankan.

Waktu kita melihat cewek di mall misalnya, yang terpaksa menungging untuk mengambil uangnya yang jatuh dan disela kancing bajunya tak sengaja kita melihat merbabu, orang boleh bebas berpikir bahwa dia sedang menggoda kita. Atau rasional kita bisa juga berpikir, kalau tidak menungging bagaimana caranya dia bisa ambil uangnya yang jatuh.

Atau misalnya lagi, waktu kita melihat cewek senyum-senyum sambil melihat kita. Kita bisa saja berpikir, bahwa cewek itu terpesona dengan kita. Atau kita bisa juga berpikir, bahwa mungkin saja kita lupa menutup resleting celana kita dan kemudian refleks melihat kebawah, siapa tau memang resleting celana kita lupa ditutup.

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa memaksa kita berpikir sama dengan orang lain. Itulah pikiran merdeka.

Sama seperti ane bebas untuk berpikir, bahwa Anies harusnya tidak maju dulu jadi presiden dan fokus mencalonkan diri sebagai gubernur Jakarta terlebih dahulu di 2024, karena ane yakin dia akan kalah di pilpres dan itu berarti peluang dia di Jakarta akan hilang.

Tapi ane juga tidak bisa memaksa orang untuk berpikir sama dengan ane, dan tidak juga bisa memaksa orang untuk tidak berpikir bahwa ane dibayar, buzzer dan penjilat.

Untuk Abolisi Tom Lembong dan Amnesti Hasto, orang tentunya juga boleh untuk bebas berpikir bahwa Prabowo hanya ingin terlihat sebagai pahlawan dan hanya ingin PDIP tunduk. Tapi hak ane juga untuk berpikir bahwa Prabowo hanya berupaya untuk mempersatukan kembali bangsa ini di momen hari kemerdekaan.

Tapi perbedaan itu biasa saja, prasangka manusia tentang kita juga bukan hal yang penting, karena prasangka Allah tentang kita yang lebih penting.

Selama masih ada kopi yang menemani, membaca prasangka manusia kepada kita justru bisa memperkaya pemikiran kita.