Untuk menghindari kegagalan kebijakan, ada beberapa langkah mendesak yang perlu ditempuh pemerintah pusat dan daerah, seperti Penyaluran KUR yang merata. Bank penerima dana pemerintah harus memastikan bahwa pedagang pasar menjadi penerima manfaat utama KUR, dengan bunga rendah dan prosedur yang sederhana.
Begitu juga Subsidi Distribusi Pangan, Pemerintah daerah perlu menekan biaya distribusi barang pokok. Tanpa subsidi, harga barang di pasar tradisional sulit stabil. Pedagang tertekan modal, dan konsumen tertekan harga.
Data Kementerian Perdagangan tahun 2022 mencatat, 40 persen pasar tradisional di Lampung masih dalam kondisi kurang layak, terutama terkait sanitasi dan fasilitas pendukung. Tanpa revitalisasi pasar akan terus kalah bersaing dengan ritel modern.
Ini yang menyebabkan organisasi yang berkaitan dengan pedagang pasar seperti APPSI dan organisasi serupa harus diberi ruang lebih besar sebagai mitra pemerintah dalam mendistribusikan program bantuan dan akses permodalan.
Penting untuk disadari, bahwa pasar tradisional bukan sekadar ruang transaksi ekonomi. Pasar tradisional adalah simpul sosial dan budaya masyarakat. Di sana interaksi sosial tumbuh, solidaritas terbangun, dan tradisi diwariskan. Pasar tradisional adalah ruang publik rakyat kecil.
Jika pasar rakyat melemah, yang hilang bukan hanya lapak dagangan, tetapi juga hilangnya ruang kebudayaan yang telah hidup ratusan tahun lamanya. Dengan menyelamatkan pasar tradisional berarti kita semua menjaga identitas ekonomi sekaligus budaya bangsa.
Kebijakan pengucuran dana ke perbankan memang langkah besar. Namun, langkah besar itu akan menjadi sia-sia jika tidak disertai keberpihakan nyata kepada pedagang kecil. APPSI Lampung sudah memberi peringatan, jangan biarkan dana hanya berhenti di meja bank.
Pemerintah pusat dan daerah harus memastikan bahwa setiap rupiah yang digelontorkan benar-benar sampai ke tangan pedagang pasar. Tanpa itu, pasar tradisional akan mati perlahan, dan ekonomi rakyat Lampung akan kehilangan napasnya.
Dan ketika pasar rakyat ini mati, kita bukan hanya kehilangan ruang dagang, tetapi juga kehilangan denyut ekonomi sejati bangsa ini.
