Kata Mereka

Dilema Penggusuran Kepala Burung

98

Seret Nama Presiden Dan Gubernur Terpilih

Bingung, itu mungkin kata yang tepat menggambarkan pikiran dari sebagian besar warga kepala burung saat tim eksekusi mendatangi lokasi.

Bentrokan kecil antara Satpol PP dan warga juga sempat terjadi, lantang teriakan takbir dan teriakan minta pertolongan kepada Presiden Prabowo Subianto terdengar keluar dari warga yang menolak penggusuran.

Banyak dari warga yang menggunakan kaos bergambar Prabowo-Gibran, serta kaos bergambar Mirza-Jihan, menurut salah satu warga hal tersebut sebagai tanda bahwa mereka telah mencoblos Prabowo-Gibran pada pemilu yang lalu dan juga mencoblos Mirza-Jihan pada Pilgub beberapa bulan lalu.

Untuk diketahui bahwa memang disediakan TPS pada Pemilu dan Pilgub untuk warga kepala burung, juga terdapat beberapa tiang listrik PLN di aera tersebut yang juga ikut di robohkan.

Sudah disebutkan, bahwa permasalahan yang terjadi terkait lahan yang digusur oleh Pemprov Lampung sudah lama terjadi, bukan baru terjadi pada era kepemimpinan Prabowo-Gibran, dan bukan terjadi saat pasangan Mirza-Jihan akan dilantik, sehingga banyak bermunculan isu pembiaran terhadap aset Pemprov Lampung dan warga kepala burung.

Lantas mengapa nama Gubernur Lampung terpilih (Rahmat Mirzani Djausal) yang ditarik dan diteriaki oleh warga? Jika bicara kebijakan, masih beberapa hari lagi Mirza-Jihan dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung. Ini tidak lain merupakan bukti bahwa 3.300.681 suara bukanlah hasil sulap.

Terlihat hanya beberapa saja dari Anggota DPRD Provinsi Lampung yang bersuara terkait penggusuran di Sabah Balau ini, itupun hanya seruan sederhana terhadap aparat di lapangan untuk bersikap humanis tidak lebih.

Memang, jika mendengar beberapa hikayat, bahwa warga yang menempati area kepala burung dinyatakan salah. Dan secara politis, tokoh dan pejabat yang membela pihak yang bersalah pasti takut terhadap framing yang pasti muncul di media sosial. Cukup Rieke Diah Pitaloka yang mengalami hal serupa.

Setidaknya secara sederhana hari ini kita sama-sama paham mengapa mereka semua diam.

Exit mobile version